Komunikasi Pembangunan di Era Digital: Menyatukan Teknologi dan Kemanusiaan

Wira alfiandri mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Andalas

TBNEWSSUMBAR.ID  — Dalam dua dekade terakhir, dunia mengalami transformasi besar dalam cara masyarakat berinteraksi dan mengakses informasi. Era digital telah mengubah wajah komunikasi pembangunan dari pendekatan satu arah menjadi ekosistem komunikasi partisipatif yang dinamis. Namun, apakah teknologi benar-benar telah menjembatani kesenjangan sosial dan mempercepat proses pembangunan yang inklusif? Atau justru menciptakan paradoks baru: keterhubungan tanpa kedekatan, dan partisipasi tanpa pemahaman?

Komunikasi pembangunan, dalam esensinya, bukan hanya soal menyampaikan pesan pembangunan kepada masyarakat, tetapi juga tentang bagaimana melibatkan mereka secara aktif dalam proses pembangunan itu sendiri (Waisbord, 2020).

Ketika kanal komunikasi digital—seperti media sosial, platform daring komunitas, hingga aplikasi berbasis AI—menjadi arus utama, maka pendekatan komunikasi pembangunan juga harus bergeser. Transformasi ini menuntut tidak hanya adaptasi teknologi, melainkan juga etika komunikasi yang sensitif terhadap konteks budaya dan sosial.

Data dari International Telecommunication Union (ITU) tahun 2023 mencatat bahwa lebih dari 5,4 miliar orang di dunia terhubung ke internet.

Di Indonesia, angka pengguna internet mencapai lebih dari 215 juta jiwa (We Are Social, 2024). Ini adalah peluang emas bagi komunikasi pembangunan untuk menjangkau komunitas paling terpencil sekalipun. Namun, tantangan terbesarnya bukan lagi soal akses, melainkan soal literasi digital dan partisipasi bermakna.
Sering kali program komunikasi pembangunan di era digital terjebak dalam glorifikasi angka engagement. Jumlah klik, likes, atau shares dijadikan indikator keberhasilan, padahal tidak menjamin adanya perubahan perilaku atau pemahaman mendalam. Seperti diungkapkan oleh Tacchi, Slater, & Hearn (2015), komunikasi pembangunan yang efektif haruslah menekankan proses dialog, bukan sekadar penyebaran informasi. Digitalisasi harus memperkuat relasi horizontal antara warga dan pembuat kebijakan, bukan sekadar menggantikan relasi vertikal yang lama.

Salah satu contoh inovatif yang layak dicontoh adalah pemanfaatan WhatsApp dan podcast komunitas oleh lembaga swadaya masyarakat di India dalam menyosialisasikan program sanitasi di daerah rural. Penelitian Arora & Scheiber (2022) menunjukkan bahwa pendekatan berbasis narasi lokal dan interaksi dua arah terbukti lebih efektif dalam mendorong perubahan sosial ketimbang kampanye visual digital berskala nasional yang top-down. Ini membuktikan bahwa teknologi hanyalah alat; substansi komunikasi tetap menjadi penentu keberhasilan.

Namun, kita juga tidak bisa menutup mata pada potensi bias algoritma dan disinformasi yang kini menjadi ancaman serius. Platform digital sering kali mengamplifikasi suara mayoritas atau opini yang paling sensasional, bukan yang paling bermakna.

Dalam konteks komunikasi pembangunan, ini bisa meminggirkan suara komunitas rentan yang justru paling membutuhkan perhatian. Oleh karena itu, komunikasi pembangunan digital harus disertai dengan pendekatan etis dan keberpihakan yang jelas terhadap kelompok marginal.

Kita membutuhkan strategi komunikasi pembangunan yang tidak hanya adaptif secara teknologi, tetapi juga reflektif secara sosial. Komunikator pembangunan hari ini bukan lagi sekadar penyebar pesan, tetapi fasilitator dialog, pendengar aktif, dan penghubung antarrealitas. Dengan memadukan pendekatan partisipatif, sensitivitas budaya, serta teknologi digital yang inklusif, komunikasi pembangunan dapat menjadi katalisator perubahan sosial yang transformatif.

Referensi:
• Arora, P., & Scheiber, L. (2022). Participatory Communication in the Age of Digital Connectivity: Rethinking Development. Media, Culture & Society, 44(5), 805–822. https://doi.org/10.1177/01634437211013545
• ITU. (2023). Measuring digital development: Facts and figures 2023. International Telecommunication Union.
• Tacchi, J., Slater, D., & Hearn, G. (2015). Ethnographic Action Research: A User’s Handbook. UNESCO.
• Waisbord, S. (2020). Family Tree of the Field: Origins and Growth of Communication for Development and Social Change. Communication Theory, 30(4), 385–402. https://doi.org/10.1093/ct/qtaa024
• We Are Social & Meltwater. (2024). Digital 2024: Indonesia. https://datareportal.com/reports/digital-2024-indonesia