
TBNEWSSUMBAR.ID |Solok Selatan — Sumatera Barat.
Suasana khidmat dan penuh makna menyelimuti sebuah nagari di Kecamatan Sangir, Solok Selatan, pada Sabtu (21/06/2025), saat digelar salah satu upacara adat yang paling sakral dalam tradisi Minangkabau: peresmian gelar kehormatan “Datuk”.
Namun yang membuat momen ini semakin berkesan bukan hanya karena kekayaan budayanya, tetapi karena kehadiran dua sosok penting yang menjadi representasi negara di tengah masyarakat. Bhabinkamtibmas Polsek Sangir Aipda Zuliandi dan Babinsa Koramil 0309/12 Sangir, Baratu Afri, terlihat hadir dan larut dalam kegiatan adat tersebut.
Kehadiran keduanya menjadi simbol nyata sinergitas TNI dan Polri dalam menjaga keharmonisan sosial di tingkat nagari. Mereka tidak hanya hadir sebagai tamu undangan, tetapi benar-benar berinteraksi, menyatu, dan memberi energi positif kepada warga yang hadir.
Aipda Zuliandi tampak begitu aktif berkomunikasi dengan masyarakat, menyampaikan pesan-pesan kamtibmas dengan gaya santai namun penuh makna. Semangat menjelang Hari Bhayangkara ke-79 pun terlihat jelas dari caranya berbaur dan memberikan dukungan moril kepada para tokoh adat, pemuda, dan seluruh lapisan masyarakat.
“Kami hadir untuk menjaga dan mengawal, bukan hanya dalam urusan keamanan, tetapi juga dalam pelestarian budaya lokal. Tradisi seperti ini adalah jati diri nagari yang harus kita hormati bersama,” ujar Aipda Zuliandi sambil tersenyum.
Baratu Afri juga menambahkan bahwa kekompakan antara TNI dan Polri di lapangan adalah kunci terciptanya suasana yang aman dan tenteram. “Bersama-sama kami memastikan setiap kegiatan masyarakat berjalan lancar. Dan dalam acara sakral seperti ini, kami bukan hanya pengaman, tapi bagian dari keluarga besar nagari,” katanya.
Kehadiran mereka disambut hangat oleh masyarakat. Para tokoh adat mengapresiasi sinergitas yang begitu terasa di lapangan, karena memberi rasa aman sekaligus menunjukkan bahwa negara hadir tidak hanya dalam urusan formal, tetapi juga dalam aspek sosial dan budaya.
Peresmian gelar “Datuk” ini pun berjalan dengan khidmat, penuh nilai, dan diwarnai dengan rasa kekeluargaan. Di tengah kentalnya adat Minang, TNI dan Polri tampil sebagai mitra masyarakat, bukan hanya sebagai pengawas, tetapi sebagai penjaga kehormatan dan kelestarian budaya.
Harmoni seperti ini menjadi contoh bahwa keamanan dan kedamaian dapat dibangun dari akar budaya, dengan pendekatan yang humanis. TNI dan Polri tak hanya berdiri di belakang garis batas hukum, tetapi juga berjalan di tengah masyarakat, sejajar dengan langkah-langkah tradisi yang terus dijaga.

Tinggalkan komentar