
TBNews Sumbar — Pasca bencana banjir bandang yang melanda wilayah Kabupaten Solok, jajaran Kepolisian Resor (Polres) Solok terus memperkuat upaya pemulihan bagi para korban terdampak. Pada Rabu, 23 September 2026, tim konselor dari Polres Solok diterjunkan langsung untuk memberikan layanan trauma healing dan konseling psikososial kepada para pengungsi.
Kegiatan kemanusiaan yang dipimpin langsung oleh Kapolres Solok, AKBP Rini Anggraini, ini bertempat di posko pengungsian yang dipusatkan di kawasan Rumah Dinas Wakil Bupati Kabupaten Solok. Sebanyak dua orang konselor dari Tim I diturunkan untuk mendampingi 39 orang warga pengungsi guna membantu meringankan beban psikologis serta memulihkan semangat mereka di tengah situasi darurat.
Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Pol Susmelawati Rosya, menyampaikan bahwa kehadiran tim konselor di lokasi pengungsian merupakan wujud nyata kehadiran negara dan kepolisian dalam memberikan perlindungan menyeluruh—tidak hanya dari aspek fisik dan logistik, tetapi juga kesehatan mental korban bencana.
“Bencana alam tentu meninggalkan dampak psikologis yang mendalam, terutama bagi perempuan dan anak-anak. Kami mengapresiasi langkah cepat Polres Solok yang langsung menerjunkan tim konselor untuk mendampingi 39 warga di pengungsian. Pendampingan psikososial ini sangat penting untuk memulihkan trauma dan mengembalikan ketenangan mental para korban,” ujar Kombes Pol Susmelawati Rosya.
Sementara itu, Kapolres Solok, AKBP Rini Anggraini, yang memimpin langsung jalannya kegiatan di lapangan, menegaskan bahwa jajarannya akan terus mendampingi para pengungsi hingga situasi berangsur pulih dan kondusif.
“Kami turun langsung ke posko pengungsian di Rumah Dinas Wakil Bupati Solok untuk memastikan para korban, yang saat ini berjumlah 39 jiwa, mendapatkan perhatian yang layak. Melalui Tim I konselor yang kami kerahkan, kami berupaya memberikan penguatan moril dan trauma healing agar warga tabah menghadapi cobaan ini dan kembali merasa aman,” ungkap AKBP Rini Anggraini.
Kegiatan pelayanan konseling ini berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan, di mana para pengungsi, baik dewasa maupun anak-anak, tampak antusias mengikuti sesi pendampingan guna mencairkan ketegangan psikologis pasca bencana.(*)

Tinggalkan Balasan